Tony Rosyid: Mau Jadi Presiden?

Tony Rosyid: Mau Jadi Presiden?
Dr. Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

JAKARTA - Pemimpin itu soal nasib. Betul! Banyak orang yang tak layak, tapi jadi pemimpin. Inilah yang disebut "holders of exceptional positions". Orang bodoh yang ambil porsinya orang pintar. Dia jadi kepala daerah atau presiden karena nasib saja. Meski tak memenuhi syarat integritas dan kapasitas.

Sistem pemilu di Indonesia memberi ruang bagi mereka yang tak memenuhi "syarat substansial" untuk menjadi pemimpin. Sebab, untuk menjadi pemimpin di negeri ini hanya butuh popularitas dan akses pendanaan. 

Soal popularitas, pelajari saja apa yang diminati media. Semua sikap dan tindakan disesuaikan dengan kebutuhan media, pasti populer. Blusukan, masuk gorong-gorong, datangi gelandangan, nyebut ke comberan, ikut becek-becek bersama petani, itu yang disukai media. 

Dengan modal popularitas dan akses dana, anda bisa beli tiket partai dan menghipnotis pemilih. Cukup itu saja. Simple! 

Bicara "syarat substansial", pemimpin idealnya adalah orang yang banyak membaca. Ini bukan hanya soal pengetahuan dan wawasan saja. Tapi terutama soal mental. Orang yang banyak baca, setidaknya dia pertama, mau mendengar banyak ide dan gagasan. Kedua, peduli pada data. Ketiga, menganggap penting analisis dan kajian.

Pemimpin yang tak suka, atau miskin bacaan, ia sulit mendengar pendapat orang lain. Cenderung tak peduli pada data, tak menyaring banyak pandangan, dan abai terhadap kajian. Yang penting kerja! 

Tidak sabar, dan ingin serba cepat. Instan dan spontan. Pokoknya, dengar atau lihat masalah, langsung selesaikan. Tak berpikir tingkat efektifitas dan dampaknya. Yang penting, selesaikan!

Lihat orang gak bisa nyebrang, bikin pelabuhan. Beli kapal-kapal, agar masyarakat bisa nyebrang. Gak berpikir kemampuan biayanya, seberapa besar manfaatnya, dan bagaimana cost kedepannya. Pokoknya dermaga harus dibuat. Ya, sepi. Mangkrak. Kenapa? Karena tidak berbasis pada kajian.

Ingin setiap daerah tumbuh ekonominya, bikin tol. Bila perlu, semua provinsi ada tol. Pertanyaanya: apakah masyarakat di wilayah itu butuh tol? Kalau gak butuh, tol sepi. Gak mampu biaya perawatan. Bangkrut, dijual. Semua ini karena program tak berbasis kajian. 

Ada juga yang gak tahan lihat gelandangan. Main kasih rekomendasi kerja di BUMN. Gak melihat dulu apa masalah mereka, berapa banyak jumlahnya, dan dimana sebaran wilayahnya. Gak mengkaji lebih dulu program menteri sebelumnya, mana yang belum efektif. Apa yang salah dan perlu dibenahi dari program sebelumnya. Pokoknya, kasih kerjaan. Emang mereka lagi cari kerja?

Selain memperlebar telinga, menajamkan mata, dan membuat peka syaraf otak, membaca juga memberi wawasan dan kekayaan pandangan. Dengan membaca, seorang pemimpin punya banyak alternatif dalam membuat keputusan. Ini akan mempengaruhi kematangannya dalam membuat setiap kebijakan.

Selain membaca, seorang pemimpin mesti gaul. Maksudnya, banyak relasi. Ketika ia jadi pemimpin, ia kenal banyak orang dengan Latar belakang profesi dan kemampuannya, lalu menyiapkan orang-orang yang layak untuk diajak berkolaborasi mengelola negara. Tahu integritas dan kapasitas mereka. Bukan hanya berpikir bagaimana menang, tapi juga bagaimana mengisi kemenangan itu. Nah, disini seorang pemimpin butuh teknokrat handal dan berintegritas. 

Idealnya, seorang pemimpin punya latar belakang aktifis yang akrab dengan persoalan-persoalan bangsa. Aktifis di dalam atau di luar pemerintahan. Lepas apapun profesinya, keakraban dengan problem bangsa akan membantunya untuk memahami dan memetakan persoalan. 

Aktifis itu terlatih berpikir cerdas, bertindak cepat dan terukur. Tidak seperti akademisi tulen yang terkungkung oleh teori-teori dan muter-muter dalam wacana. Aktifis itu paham masalah, tahu teorinya, cepat keputusannya. 

Poinnya, sebelum jadi pemimpin, ia mesti paham apa masalah yang dihadapi bangsa ini. Ada gagasan di otaknya bagaimana menyelesaikan masalah itu.

Bayangkan, jika seorang pemimpin gak punya data. Gak paham masalah. Gak tahu apa-apa soal bangsa. Bagaimana dia punya gagasan dan program. Akibatnya, banyak pemimpin yang gak paham apa yang diucapkan dan dijanjikan saat kampanye. Sebab, yang membuat janji itu timsesnya, bukan dirinya. Dia gak paham janji itu. Paham saja enggak, bagaimana mau melaksanakan.

Model _man of contradictions_ di negeri ini banyak. Karena tak memenuhi "syarat substansial" sebagai pemimpin!

Jakarta, 30 Januari 2021

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Tony Rosyid

Tony Rosyid

Previous Article

Sekda Bagikan Bingkisan Idul Fitri untuk...

Next Article

Rekrut Anggota Baru, KPN Tuah Sepakat Sosialisasi...

Related Posts

Peringkat

Profle

Achmad Sarjono verified

Syafruddin Adi

Syafruddin Adi

Postingan Bulan ini: 195

Postingan Tahun ini: 195

Registered: Apr 8, 2021

Afrizal

Afrizal verified

Postingan Bulan ini: 173

Postingan Tahun ini: 173

Registered: May 25, 2021

Muh. Ahkam Jayadi

Muh. Ahkam Jayadi verified

Postingan Bulan ini: 128

Postingan Tahun ini: 128

Registered: Aug 19, 2021

Nanang suryana saputra

Nanang suryana saputra

Postingan Bulan ini: 110

Postingan Tahun ini: 110

Registered: Jul 10, 2020

Profle

Afrizal verified

Ini Nama - Nama Pejabat Eselon III dan IV yang Dilantik Walikota Sungai Penuh
Lempar Petugas Patroli Saat Malam Pergantian Tahun, Dua Pemuda di Nagekeo Diamankan
Sehari Usai Dilantik, Kades Pappalluang Ditahan di Polres Jeneponto, Begini Kasusnya
Baru Seminggu Menjabat, Kapolres Tanah Datar Ringkus 6 Pelaku Penyalahgunaan Narkoba

Follow Us

Recommended Posts

Tingkatkan Disiplin dan Kinerja, Sekda Pimpin Apel Mingguan di Lingkungan Pemkab Way Kanan
DBMSDA Kabupaten Tangerang Gerak Cepat Tangani Banjir, H.Slamet Budi Mulyanto: Prioritaskan Normalisasi Kali Cilampe Kosambi
Patroli Gabungan TNI-Polri dan Satpol PP Kab. Barru Sasar Alun-alun Kota Barru
DPP LIPPI Apresiasi Langkah Polda Metro Jaya  Fasilitasi Para Pebalap Liar di Jakarta
Tetap Atur Lalu Lintas Meski Hujan, Satlantas Polres Situbondo Beri Rasa Aman Masyarakat Beraktifitas