SKK Migas: Pemerintah Belum Setujui Harga Jual Gas Blok Sakakemang

SKK Migas: Pemerintah Belum Setujui Harga Jual Gas Blok Sakakemang

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan, sampai saat ini belum tercapai kesepakatan soal harga jual gas  di Blok Sakakemang, Sumatera Selatan.

Akibatnya, pemerintah belum menyetujui rencana pengembangan (Plan of Development/ POD) Blok Sakakemang, Sumatera Selatan yang dioperasikan Repsol.

Hal itu disampaikan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto melalui keterangannya, Kamis (1/10/2020).

Menurut Dwi, pemerintah mengharapkan harga jual gas dari Blok Sakakemang ini mencapai sekitar US$5, 4 per juta British thermal unit (MMBTU), karena mengacu pada Peraturan Menteri ESDM No.8 tahun 2020 di mana harga jual gas pipa ke industri maksimal US$6 per MMBTU.

Sementara dari sisi Repsol menginginkan harga jual gas sebesar US$7 per MMBTU sesuai dengan hitungan keekonomian proyek.
 
Bila harga gas yang ditetapkan di bawah US$7 per MMBTU, maka menurutnya ini akan mengganggu keekonomian dari proyek Blok Sakakemang ini.
"Kami sedang berdiskusi dengan kementerian ESDM, bahwa memang ada permasalahan dalam hitung-hitungan harga jual gas. Jadi, seperti yang disampaikan oleh Repsol bahwa mereka menargetkan harga jual gas US$7 per MMBTU, tetapi mengingat kebijakan harga jual gas pipa ke industri US$6 per MMBTU, maka saat ini masih diharapkan harga jual gas di US$5, 4 per MMBTU, " urainya.

Bila diskusi berjalan lancar, maka pihaknya menargetkan kesepakatan dengan Repsol bisa terjadi di Oktober 2020.

Untuk menemukan kesepakatan, menurutnya pihaknya bersama Kementerian ESDM dan juga Repsol terus melakukan diskusi.

Salah satu opsi yang ditawarkan yaitu bagaimana agar investasi Repsol bisa menurun, sehingga bisa mengurangi risiko keekonomian proyek.

"Mudah-mudahan ini segera mungkin bisa kita selesaikan. Kami berharap bulan September-Oktober ini sudah ada kejelasan mengenai POD Tahap 1, " ungkapnya.

Sebelumnya, sudah beberapa bulan lamanya Repsol mengajukan proposal POD tahap 1 Blok Sakakemang ini.

Dari total perkiraan cadangan sebesar 2 triliun kaki kubik (TCF), akan dikembangkan Tahap 1 terlebih dahulu dengan cadangan sekitar 0, 5 TCF.

Blok Sakakemang yang dioperasikan Repsol Indonesia kini menjadi andalan untuk meningkatkan sumber pasokan gas Indonesia pada beberapa tahun mendatang. 

Sedangkan, Stakeholder Relations Manager Repsol Indonesia Faisal Jindan menuturkan pihaknya masih menunggu persetujuan POD ini.

Saat ini Repsol tengah proses sertifikasi cadangan terbukti 1 TCF tersebut, untuk kemudian memasukkan rencana pengembangan. Pemerintah bahkan menargetkan agar Blok Sakakemang ini bisa mulai produksi pada 2021.

Blok Sakakemang ini dioperasikan Repsol yang memiliki hak partisipasi 45 persen dan selebihnya dimiliki oleh Petronas 45 persen dan MOECO 10 persen. (Foto: SKK Migas)

JAKARTA SKK Migas
SULSEL SATU

SULSEL SATU

PLN Jalankan Keputusan Menteri ESDM Terkait Tarif Listrik Golongan Tegangan Rendah Turun Previous Article

PLN Jalankan Keputusan Menteri ESDM Terkait Tarif...

Tingkatkan Kewirausahaan, FEB Usakti Jakarta Gelar Pelatihan Model Bisnis Bagi UMKM dan Wirausaha Muda Next Article

Tingkatkan Kewirausahaan, FEB Usakti Jakarta Gelar...

Related Posts

Follow Us

Recommended Posts

Ternama di Makassar, Salon Inaura Hermansyah Hijrah ke Jeneponto Buka Rias Pengantin dan Berbagai Jenis Perawatan
Apel Personil Polres Pesawaran, Kesiapan Pengamanan  Pilkada Serentak Tahun 2020
Ketua DWP Kabupaten Bantaeng Masa Bakti 2019 - 2024 Resmi Dilantik
Pengurus DWP Kabupaten Luwu Timur Dikukuhkan Secara Virtual 
H -9 Pilkada Serentak, Kapolres Toraja Utara: Junjung Tinggi Netralitas dan Laksanakan Tugas Penuh Tanggung Jawab