Polemik Ekspor Benih Lobster, Upaya Menyaingi Vietnam Dalam Membudidayakannya

Polemik Ekspor Benih Lobster, Upaya Menyaingi Vietnam Dalam Membudidayakannya
Foto: ilustrasi

OPINI: Kebijakan izin ekspor benih lobster yang dikeluarkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 telah menimbulkan polemik ditengah masyarakat. Suara masyarakat terbelah, ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Padahal, penjelasan mengenai keputusan tersebut sudah pula disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan bahwa izin ekspor benih lobster bertujuan agar nelayan dapat sejahtera alias menambah perekonomian nelayan. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan jumlah penangkap benih lobster di seluruh Indonesia ada puluhan ribu orang dan selama 5 tahun yang lalu terhenti mata pencahariannya.

Hal tersebut terjadi dikarenakan pada masa Menteri Kelautan dan Perikanan sebelumnya, yakni Susi Pudjiastuti mengeluarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 mengenai larangan ekspor benih lobster.

Alhasil, jika ada nelayan yang masih ‘ngeyel’ untuk menangkap benih lobster apalagi sampai diekspor, maka resikonya adalah ditangkap dan dipenjarakan oleh aparat.  Walaupun akhirnya mereka (baca: nelayan) banyak juga yang harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Tragis.

Menurut informasi yang berhasil saya himpun dari berbagai sumber, bahwa induk betina lobster pada saat telur menetas ( hatching) jumlahnya adalah ratusan ribu bahkan sampai jutaan dan bahkan sampai 4 juta telur dari satu ekor induk betina lobster. Larva tersebut memerlukan waktu 110 – 150 hari dan melalui 11 tahapan perubahan bentuk untuk sampai kepada puerulus yang biasa disebut benih lobster.

Lalu, pada saat induk lobster tersebut bertelur berada diantara perairan Indonesia Timur dan Australia ( Laut Arafura, Papua Nuigini dan Australia Utara)  lalu dibawa oleh gelombang laut menuju ke perairan laut di Filipina lalu ke Laut China Selatan di sekitar Vietnam lalu ke Malaysia dan akhirnya sampai ke Laut Jawa dan Laut Timor.

Itulah perjalanan selama 150 hari yang ditempuh oleh larva lobster dan itulah sebabnya Indonesia kelimpahan rejeki dari benih-benih lobster tersebut dan bisa diklaim sebagai tempat benih spiny lobster terbanyak di dunia. Hal tersebut dinyatakan dan diyakini  oleh para ahli lobster dari Australia.

Jadi bisa dibayangkan betapa banyaknya jumlah benih lobster tersebut jika 1 induk bisa menetas sebanyak jutaan telur. Tetapi saat telur tersebut menjadi puerulus atau benih lobster, kemampuan untuk bisa bertahan hidup sampai dewasa sangat kecil, yaitu sink population hanya 0.01% artinya dari 10.000 benih tersebut yang bisa hidup hanya 1 ekor saja dan sink population kemungkinan hidupnya hanya 0.1%. Artinya, dari 1.000 ekor benih kemungkinan yang bisa hidup hanya 1 ekor saja. Mengapa demikian? Karena di lautan banyak sekali mahluk hidup yang saling membutuhkan makanan. Benih-benih lobster ini kalau tidak ditangkap dan dimanfaatkan oleh manusia maka akan menjadi santapan ikan ikan yang lain misalnya ikan layur.

Sementara itu, berdasarkan hasil riset dari Litbang Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) yang dilakukan pada tahun 2017, potensi benih lobster yang ada di perairan Indonesia adalah sebanyak 850 milyar ekor. Jikalau angka itu berubah saat ini, ada juga data yang mengatakan sebanyak 27 milyar ekor benih lobster di seluruh laut di Indonesia.

Apakah itu 850 atau 27 milyar tapi yang pasti adalah jumlahnya banyak sekali dan jika tidak dimanfaatkan maka yang akan bisa berhasil hidup hanyalah 0.01% dan lobster tidak termasuk mahluk hidup yang akan punah menurut dalam daftar CITES ( Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Jadi, kekhwatiran bahwa lobster akan punah terlalu mengada-ada.

Sedangkan, berdasarkan perhitungan para ahli lobster, potensi benih lobster yang bisa ditangkap oleh nelayan kita per hari adalah 2 juta ekor. Kebutuhan untuk mensupply keramba keramba lobster yang ada di seluruh Indonesia saat ini hanyalah 5 juta ekor per tahun.

Oleh karena itu, memang akhirnya solusi yang tepat itu adalah dengan melakukan ekspor benih lobster. Semua dengan tujuan agar nelayan bisa sejahtera dan benih lobster bisa menjadi lahan baru bagi perkembangan daerah pesisir. Lalu, muncul pertanyaan selanjutnya, apakah Indonesia perlu meningkatkan budidaya benih lobster menjadi lobster yang besar terlebih dahulu?. Jawabannya tentu saja bisa. Itu adalah impian kita semua untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dari lobster.

Salah satu cara untuk membesarkan benih lobster menjadi lobster dewasa tentunya adalah harus ada banyak orang yang melakukan budidaya tersebut. saat ini, menteri Kelautan dan Perikanan mengimbau para pengusaha dan investor untuk masuk ke dunia lobster.

Saat ini budidaya lobster yang dilakukan di Indonesia belumlah bisa dikatakan berhasil. Ada berbagai kendala, seperti survival rate hanya 30-40% saja, pakan, bunga bank sehingga belum dianggap menguntungkan bagi para pemodal. Oleh sebab itu, sampai saat ini budidaya lobster masih banyak dilakukan sendiri oleh penduduk di daerah pesisir dengan skala terbatas.

Hal yang juga menarik untuk diketahui adalah bahwa makanan lobster itu adalah kerang-kerangan, kepiting, landak laut, udang dan ikan kalau dia hidup di alam bebas. Budidaya lobster di Indonesia, mereka menggunakan kebanyakan hanya ikan rucah karena jenis makanan lobster yang lain seperti kepiting, udang, kerang tentunya mahal dan lebih bernilai jual tinggi dibanding dijadikan pakan. Yang mengejutkan bahkan lobster diberikan pakan ikan asin yang nilai gizinya sudah tidak ada sehingga tidak heran kalau hasil lobster dewasa budidaya kualitas dagingnya tidak sebaik hasil tangkapan alam.

Dari berbagai permasalahan diatas, jelas terlihat bahwa mata rantai budidaya lobster di Indonesia belum mumpuni, sehingga perlu adanya sistem atau pun teknologi untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Selain itu, kita juga perlu sarjana perikanan dan kelautan untuk memberikan sumbangsih pemikiran kepada para nelayan.

Vietnam Bisa, Kenapa Indonesia Tidak Bisa?

Jika kita berkaca kepada negara tetangga, seperti Vietnam yang menjadi surga bagi eksportir benih lobster, maka dapat disimpulkan Indonesia masih tertinggal jauh. Sebagai salah satu negara tujuan benih lobster dari Indonesia, Vietnam telah memulai budidaya lobster sejak 35 tahun yang lalu.

Mereka sudah pengalaman merasakan pahit getir dan menjadi kaya dari lobster. Sedangkan, di Indonesia bisnis lobster baru dimulai awal tahun 2000. Masih panjang jalan yang harus ditempuh oleh kita untuk bisa bersaing dengan Vietnam.

Kita bisa jika seluruh stakeholders mau bergandengan tangan menuju cita-cita luhur tersebut. Pemerintah, pengusaha, nelayan dan petambak harus memulai dari sekarang. Pemerintah sudah memulai dengan mengizinkan nelayan untuk menangkap benih lobster. Selain itu, pemerintah pun perlu melakukan peningkatan teknologi dan permodalan bagi usaha benih lobster untuk bisa berternak lobster hingga besar dan bisa dijual dengan harga yang lebih mahal lagi.

Seandainya semua itu dapat dilakukan secara terstruktur, massif dan sistematis, maka tidak ada kata mustahil bagi kita jika suatu saat Indonesia tak hanya ekspor benih lobster, namun mengekspor lobster yang sudah dewasa. Semoga saja.

Oleh: Arven Marta, Direktur Eksekutif Bakornas LEMI PB HMI (2018-2020).