Pendidikan Adaptasi Baru Menghadapi Covid 19

Pendidikan Adaptasi Baru Menghadapi Covid 19
Delta Ardiles SE

PESAWARAN - Hampir semua orangtua di Indonesia pada saat ini kebagian tanggung jawab mendampingi anak-anak belajar dari rumah. Namun banyak orangtua harus mengakui bahwa menjelaskan berbagai mata pelajaran dan menemani anak-anak mengerjakan tugas-tugas sekolah tidak semudah yang dibayangkan.

Kerja keras para guru selama ini sungguh patut diapresiasikan, ditengah pembatasan sosial akibat wabah covid-19, orang tua harus tetap semangat mengajar ilmu pengetahuan kepada anaknya.

Hampir tidak ada yang menyangka, wajah pendidikan akan berubah drastis akibat pandemi covid19. Konsep sekolah di rumah (home-schooling) tidak pernah menjadi arus utama dalam wacana pendidikan nasional. 

Meski makin populer, penerapan pembelajaran online/daring (online learning). Kebijakan physical distancing untuk memutus penyebaran wabah, memaksa perubahan dari pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah, dengan sistem online, dalam skala nasional, bahkan ujian nasional tahun ini terpaksa ditiadakan.

Sistem pendidikan online pun tidak mudah dijalankan disamping disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri, ada fasilitas teknologi dan sumber daya manusia yang mesti disediakan.

Walaupun kita bersyukur masih mampu memfasilitasi anak untuk pendidikan jarak jauh, tapi saya mendengar keluhan banyak orangtua murid dan juga tenaga pendidik yang kesulitan, baik dalam menyediakan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop maupun pulsa untuk koneksi internet.Dengan kata lain, sistem pembelajaran online ini berpotensi membuat kesenjangan sosial ekonomi yang selama ini terjadi, menjadi makin melebar saat pandemi.

Kemenaker, mencatat kurang lebih sudah lebih dari 2 juta buruh dan pekerja formal-informal yang dirumahkan atau di PHK. Dengan kondisi seperti ini, banyak orangtua kesulitan menyediakan kesempatan pendidikan yang optimal bagi anak-anak mereka. Dalam situasi yang lebih buruk, orangtua malah bisa berhadapan pada pilihan dilematis dimana harus memberi makan keluarga atau membiayai pendidikan anak.

Yang jadi ke khawatiran kita semua akan berpotensi membuat angka putus sekolah meningkat. Sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara nasional mulai tanggal 16 Maret 2020, muncul indikasi naiknya angka putus sekolah di berbagai tempat. Dimana daerah-daerah yang tergolong zona merah dalam penyebaran wabah. 

Angka putus sekolah dari kawasan perdesaan juga diperkirakan akan naik. Dalam jangka panjang, anak-anak yang putus sekolah ini memiliki kemungkinan lebih besar untuk menganggur, baik secara tertutup atau terbuka. Ini bukan hanya secara akumulatif akan menurunkan produktivitas nasional, tapi membuat mereka terjebak dalam lingkaran tidak berujung (vicious circle) kemiskinan struktural. 

Harapan orang tua wali murid, harapan wali murid jangan dibebankan lagi biaya pendidikan, untuk masa pandemi ini biaya yang didapatkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk, memastikan keberlangsungan pendidikan anak-anak. 

Disisi lain, harapan kami pemerintah juga perlu memperhatikan nasib para guru, terutama guru-guru swasta maupun guru honorer (termasuk guru tidak tetap), Ketiadaan proses belajar mengajar di sekolah, secara langsung maupun tidak langsung, menurunkan semangat mereka dan penghasilan mereka. Semoga masa pandemi ini cepat berlalu,dan proses pendidikan berjalan lagi seperti biasanya.

Penulis : Delta Ardiles, SE (Kabid Pendidikan Ikatan Wartawan Online Propinsi Lampung) Editor : Agung Sugenta Inyuta, S.Kom.