Immanuel Macron VS Politisi Indonesia

Immanuel Macron VS Politisi Indonesia
Presiden Perancis Immanuel Macron

JAKARTA - Pernyataan presiden Perancis, Immanuel Macron menggegerkan dunia. Tidak saja membuat marah orang Islam, orang Kristen, dan bahkan sejumlah umat beragama marah. Penggiat demokrasi juga marah.

Immanuel Macron bilang bahwa Islam dan umat Islam sedang terjadi krisis dimana-mana. Presiden Perancis ini memberi ruang bagi munculnya karikatur yang menghina Nabi Muhammad sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. 

Publik bertanya: bagaimana "jika" ada yang  membuat karikatur Immanuel Macron dan istrinya bertelanjang bulat dan melakukan hubungan intim di atas panggung dengan latar belakang gambar anak-anaknya dan rakyat yang sedang bertepuk tangan berada di kursi penonton? Apakah ini bagian dari kebebasan berekspresi? Ngawur! 

Dipastikan, umat Islam tak akan membalasnya dengan cara-cara seperti itu. Sangat rendahan, tak berkelas dan melanggar tidak saja "aturan syar'i" tapi juga menyalahi tata krama sosial dan kemanusiaan. Kita pun juga akan mengutuknya jika itu terjadi. Bukan membela Immanuel Macron, tapi membela kewarasan moral dan rasionalitas yang sehat. 

Pernyataan Immanuel Macron menuai protes banyak pemimpin negara. Bahkan sejumlah negara Arab seperti Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dll memboikot produk dari Perancis. Di Indonesia, juga sedang ada penggalangan untuk melakukan hal sama.

Pernyataan Macron tidak saja akan merusak hubungan Perancis dengan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, tapi juga berpotensi merusak hubungan antar umat beragama di seluruh dunia. Sebuah pernyataan yang tidak saja gak pantas keluar dari seorang kepala negara, tapi itu pernyataan destruktif dan sangat berbahaya. Ini menunjukkan bahwa Immanuel Macron memang seorang presiden yang belum begitu matang dan sempit wawasan. 

Ketika human right itu didefinisikan, maka ia terbatas. Semua yang didefinisikan itu terbatas. Hanya Tuhan yang tak terbatas. Di luar itu, semua terbatas. 

Apa batasnya? Hak asasi itu tak boleh mengambil, mengganggu dan merusak hak orang lain. Kalau mengambil, mengganggu dan merusak hak orang lain, itu bukan hak asasi, tapi kejahatan. Setiap kejahatan itu destruktif. Merusak tatanan dan hubungan sosial. Menciptakan disharmoni, menjadi ancaman keamanan dan kenyamanan sosial, bahkan global. Setiap kejahatan itu berpotensi melahirkan kejahatan yang lain, bahkan bisa lebih dahsyat lagi ketika direspon dengan cara-cara yang negatif. Tidakkah perang itu seringkali terjadi karena adanya aksi kejahatan yang direspon dengan reaksi kejahatan? 

Immanuel Macron gak cerdas. Bahwa statemennya itu tak hanya bahaya untuk keamanan dunia, tapi juga jadi bumerang buat negaranya sendiri. Anda bayangkan, jika semua negara berpenduduk muslim melakukan boikot terhadap produk Perancis, negara itu bisa collaps. Dan itu layak dan sah dilakukan sebagai hukuman terhadap negara yang memprovokasi konflik. 

Tapi, Abu Janda gak mau boikot? Ah, anda jangan menurunkan kelas pendidikan dan sosial anda dengan memperhatikan "orang-orang" yang hidupnya sibuk cari perhatian. 

Bagaimana dengan pemerintah Indonesia yang notabene berpenduduk mayoritas umat Islam? 

Menlu RI Retno Marsudi telah panggil duta besar Perancis. Entah apa yang dibicarakan, publik meraba-raba. Tapi, ini tak begitu taktis dan efektif.

Jauh lebih efektif jika presiden Jokowi ikut mengecam pernyataan Immanuel Macron. Tak harus sekeras Erdogan. Cukup bilang: "sangat menyayangkan apa yang diucapkan Immanuel Macron". Atau menggunakan bahasa yang lebih lunak dan halus dari itu. Ini sudah lebih dari cukup. Yang penting, ada pernyataan sikap. 

Ingat, Pak Jokowi adalah presiden mayoritas umat Islam terbesar di dunia. Layak jika bertindak atas nama rakyat yang dipimpinnya. Sebab, presiden itu bukan representasi diri, keluarga, partai dan kelompoknya. Presiden itu representasi rakyat yang dipimpinnya.  Presiden mesti tak perlu berkeberatan untuk menyuarakan kegelisahan rakyat Indonesia terkait pernyataan presiden Perancis itu. 

Kali ini, sikap AHY justru yang tepat. Atas nama demokrasi, ketua partai Demokrat ini mengecam pernyataan Immanuel Macron. Ini langkah cerdas. Aksi ini bisa membuka simpati rakyat, khususnya umat Islam kepada Demokrat. Rakyat berharap Pak Jokowi juga ikut membuat langkah cerdas. 

Kalau pernyataan teraebut keluar dari PKS, itu biasa. PKS selalu terdepan terkait isu-isu keislaman dan kemanusiaan. Partai dakwah ini sepertinya memang mendedikasikan diri untuk dua isu itu: Keislaman dan Kemanusiaan. Untuk kemanusiaan PKS membuktikannya di saat ada bencana nasional maupun global. Selalu hadir atas nama kemanusiaan. Kalau langkah ini konsisten, terus diperbesar, maka aksi PKS akan terus mendulang simpati bagi publik. Hanya perlu sosialisasi yang lebih taktis dan efektif. PKS kurang soal ini. Demi "keikhlasankah?

Kalau kecaman terhadap Immanuel Macron itu dilakukan oleh PDIP, ini baru sesuatu. Sesuatu banget. Atas nama demokrasi, PDIP mengajak rakyat Indonesia boikot produk Perancis, ini akan jadi berita besar. Jadi hot news dan headline media. Apalagi kalau diikuti oleh PSI. Ngarep! 

Tapi, apa mungkin? Ngayal ah! Bagaimana dengan PKB? Apakah akan mengikuti mazhabnya Abu Janda? Jangan bercanda! Colek Cak Imin. Lama kita gak ngobrol. Tulisan ini jadi media kita bersalingsapa.

Jakarta,  30 Oktober 2020

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

IMANNUEL MACRON
Release

Release

Previous Article

Bupati Abdya Bakal Naikan Tunkin ASN, Ini...

Next Article

Tingkatkan Kewirausahaan, FEB Usakti Jakarta...

Related Posts

Peringkat

Profle

Nanang Suryana

Herman Djide

Herman Djide verified

Postingan Bulan ini: 184

Postingan Tahun ini: 426

Registered: Sep 22, 2020

Satria Ferry Sonarya

Satria Ferry Sonarya verified

Postingan Bulan ini: 181

Postingan Tahun ini: 222

Registered: Dec 5, 2020

Agung Setiyo

Agung Setiyo

Postingan Bulan ini: 122

Postingan Tahun ini: 245

Registered: Jan 6, 2021

Suhardi

Suhardi

Postingan Bulan ini: 96

Postingan Tahun ini: 194

Registered: Sep 22, 2020

Profle

Indra Gunawan

Terkait Perkelahian Pelajar Berakhir Maut, Edi Mulyono: Bahasa dalam Pemberitaan itu Terlalu Berlebihan
Gantung Diri Bersama, Pasangan Kekasih di Toraja Utara ini Tinggalkan Sebuah Surat
Lagi, Warga Jeneponto Bunuh Diri Diduga Minum Racun Gramaxone
Diduga Terima Order Penangkapan, Penyidik Polres Tanah Datar Dilaporkan Ke Bawassidik Polda Sumbar
banner

Follow Us

Recommended Posts

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara, Rony Reynaldo Situmorang Reses di Nagori Dolok Parmonangan
Razia Rutin Lapas Klas IIB Gunung Sugih, Petugas Temukan Ekstasi dan Sabu Dalam Guling
Kepemilikan 1,5 Kg Sabu di Riau, Jaksa Ancam Terdakwa AS Pidana Mati
Bayar Uji Kir Cukup Mudah Lewat Online
Tilang Elektronik Segera Diberlakukan, Dirlantas Polda Sulut Beberkan Lokasinya