Hari Jadi Kota Kediri ke-1141 Ritual Manusuk Sima Digelar Virtual

Hari Jadi Kota Kediri ke-1141 Ritual Manusuk Sima Digelar Virtual
Prosesi ritual Manusuk Sima digelar secara virtual dan menerapkan protokol kesehatan ditengah covid-19

KEDIRI - Rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1141 tidak akan berlangsung meriah seperti tahun lalu. Hal itu karena kegiatan yang berlangsung saat pandemi corona virus disease 2019 atau Covid-19 lebih banyak digelar secara virtual dengan peserta terbatas.

Termasuk ritual adat yang disakralkan prosesi Manusuk Sima tetap digelar, namun dengan protokol kesehatan yang ketat.

Manusuk Sima sebagai visualisasi dari sebuah peristiwa yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu. Hal ini untuk menunjukkan sejarah berdirinya Kota Kediri berdasarkan Prasasti Kwak yang ditemukan di Desa Ngabean, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah tahun 1892.

Pada prasasti tersebut berangka tahun 801 saka atau tanggal 27 Juli 879 M. Untuk itu, setiap tanggal 27 Juli diperingati sebagai Hari Jadi Kota Kediri. Dalam upacara Manusuk Sima tersebut hanya dihadiri para Budayawan dengan pakaian kebesarannya di Taman Tirtoyoso Kota Kediri, Senin (27/7/2020)

Peserta prosesi itu sendiri dibatasi tidak lebih dari 40 orang dan digelar tanpa penonton di Situs Kuwak, Taman Tirtayasa, Kota Kediri.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Nur Muhyar menjelaskan, masyarakat bisa menyaksikan siaran langsung prosesi Manusuk Sima melalui Jtv, Harmoni Kediri Tv dan YouTube.

“Manusuk Sima sudah tradisi tahunan, untuk menghormati leluhur para pendiri Kediri, kami tidak bisa menghapusnya dari rangkaian hari jadi," jelas Nur Muhyar.

Dikatakannya Nur Muhyar, nilai-nilai yang terkandung dalam ritual Manusuk Sima menjadi pengingat atau tetenger bahwa ada masa ketika Kediri ditetapkan menjadi sebuah wilayah, yang berdiri dan tetap bertahan hingga sekarang, bahkan dari nama Kediri pun tetap dipakai hingga saat ini.

Ia yang juga ketua panitia Hari Jadi Kota Kediri berharap rangkaian acara ini berjalan lancar dan tidak mengurangi makna perayaan hari jadi.

"Kita peringati hari jadi dengan sederhana, mengingat situasi pandemi yang tidak memungkinkan kita gelar secara besar-besaran,” ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar yang akrab disapa Mas Abu menjelaskan bahwa Manusuk Sima ini mengandung arti penetapan sawah pategalan seluas empat tampah. Pelaksanaan penetapan sawah pategalan ini pada masa kejayaan Raja Rakai Kayuwangi, tanah Sima ini sangat subur, dialiri air patirtan Tirtoyoso sehingga dapat mensejahterakan masyarakat Kota Kediri ribuan tahun yang lalu.

Lebih lanjut Wali Kota Kediri mengungkapkan selama ribuan tahun, Kota Kediri telah mengalami beberapa kali transformasi. Dimulai dari dijadikannya Kediri sebagai ibukota kerajaan, kemudian dengan memiliki sebuah dermaga kapal pada masa itu, Kota Kediri menjadi kota dagang dengan Arab, Cina, Malaka dan Nusantara. Transformasi selanjutnya ada di bidang ekonomi, mulai dari manufaktur lama yaitu pabrik gula, kemudian manufaktur baru yaitu industri rokok hingga saat Ini menjadi kota berbasis jasa.

"Situasi pandemi covid-19 ini sangat tidak memungkinkan penyelenggaraan acara yang mengumpulkan orang banyak,” jelasnya.

Mas Abu menjelaskan, rangkaian hari jadi yang dimulai dengan acara Semaan Alquran hingga pagelaran ritual Manusuk Sima dilakukan secara virtual.

Rangkain acara juga mencakup pegelaran musik virtual dan pameran UMKM virtual. Pemkot Kediri akan melaunching program IKM Go Digital.

“Dari berbagai transformasi ini, yang harus kita syukuri bersama adalah kisah dari perjalanan panjang Kota Kediri yang selalu membawa perubahan dan membawa kebaikan untuk masyarakat,” ujarnya. (prijo)