Danrem 031/WB, Bupati Rohil, Dandim 0321 dan Kapolres Periksa Kesiapan Alat Tangani Karhutla

Danrem 031/WB, Bupati Rohil, Dandim 0321 dan Kapolres Periksa Kesiapan Alat Tangani Karhutla

ROKAN HILIR- Komandan komando resort militer (Danrem) 031/ Wira Bima Brigjend M.Syech Ismed,SE.M.Han bersama bupati Rohil H.Suyatno, Kapolres Rohil AKBP Nurhadi Ismanto,SH,SIK dan Dandim 0321/Rohil Letkol arh Agung Rachman Wahyudi,SIP,MPol memeriksa kesiapan peralatan untuk menangani Karhutla di Kabupaten Rokan Hilir. Apel kesiapsiagaan penanggulangan karhutla tersebut di gelar di Taman Budaya jalan Kecamatan komplek perkantoran batu enam Bagansiapiapi, Jumat (10/07/2020).

Tampak hadir bupati kabupaten Rohil H.Suyatno, wabup Drs H. Jamiludin, kajari Rohil Gaos Wicaksono,SH,MH, Kapolres Rohil AKBP Nurhadi Ismanto,SH,SIK, Dandim 0321/Rohil Letkol arh Agung Rachman Wahyudi,SIP,Mpol,pj Sekdakab Rohil HM Job Kurniawan,Sap, pengadilan negeri,  sejumlah pejabat pimpinan tinggi pratama dan TNI Polri.

Danrem 031/WB Brigjend M.Syech Ismed,SE.M.Han mengatakan ditengah kesibukan dalam menghadapi pandemi covid 19 ini, dalam waktu dekat menghadapi musim kemarau juga memiliki pekerjaan besar yakni mencegah dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah provinsi Riau, salah satunya di kabupaten Rokan Hilir (Rohil).

Lanjutnya menegaskan, melalui apel kesiapsiagaan penanggulangan karhutla hendaknya dapat meningkatkan profesionalisme satgas dalam mengatasi bencana alam yang terjadi di wilayah khususnya bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan bukanlah semata-mata menjadi masalah pemerintah, tetapi merupakan masalah bersama. Harus ditangani secara bersama-sama oleh segenap komponen dan elemen bangsa,”ujarnya.

Dikatakannya, perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, diantaranya membuka ladang atau lahan pertanian dengan cara membakar hutan, meninggalkan bekas api unggun yang membara di hutan, membuat arang di hutan, membuang puntung rokok sembarangan di dalam hutan dan juga memperhatikan wilayah hutan dengan titik api (hot spot) cukup tinggi, terutama lahan gambut dimusim panas dan kemarau yang berkepanjangan. 

Lanjutnya menjelaskan bahwa presiden RepublikIndonesia Joko Widodo memberikan empat arahan mengenai pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang disampaikan dalam rapat koordinasi nasional (Rakornas) pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang di gelar di istana negara Jakarta yaitu:Pertama, memprioritaskan pencegahan melalui patroli terpadu deteksi dini, sehingga kondisi harian di lapangan selalu termonitor dan selalu terpantau.

Kedua, khususnya kepada badan restorasi gambut untuk melakukan penataan pengelolaan ekosistem gambut secara berkelanjutan.

“Tujuan dari penataan ekosistem gambut tersebut selain untuk menata lingkungan juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan,”jelasnya.

Ketiga, segera mungkin padamkan api kalau memang ada api. Jangan biarkan api itu membesar.

“Langkah-langkah water bombing dilakukan. Jikakalau sudah terlanjut membesar itu juga tidak mudah,”ucapnya kemudian.

Keempat, terkait penegakan hukum bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan.

“Presiden meminta agar hal tersebut dilakukan dengan tanpa kompromi,”tutur Danrem 031/Wira Bima Brigjend M.Syech Ismed,SE, M.Han.

Kata ia, inovasi dan terobosan Polda Riau untuk mengatasi karhutla dengan menciptakan aplikasi Lancang Kuning Nusantara merupakan program digital yang telah digunakan oleh 11 Kepolisian daerah (Polda) yang memiliki wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

“Aplikasi lancang kuning Nusantara bertujuan untuk penanggulangan karhutla,”katanya.

Lanjutnya mengatakan aplikasi lancang kuning ini memiliki sistem penanganan kebakaran hutan secara terukur, terstruktur dan efisien. Dalam sistem ini menggunakan 4 teknologi citra satelite (Terra, NOAA, Lapan dan Aqua) untuk mendetiksi titik api.

Aplikasi lancang kuning dapat memberikan informasi secara akurat untuk mendeteksi titik koordinat hot spot atau titik api. Melakukan verifikasi di lapangan sehingga memudahkan para petugas melakukan pemadaman.

“Aplikasi lancang kuning tidak bisa berjalan efektif tanpa diindak lanjuti dengan dua hal utama yakni: Pertama, setelah kita mengetahui deteksi dini melalui aplikasi tadi kemudian kita informasikan kelapangan untuk kita identitifikasi apakah titik api dan lokasinya dimana,”jelasnya.

“Kedua, setelah memastikan adanya titik api, maka segera berkoordinasi untuk melakukan eksekusi pemadaman api. Hal ini tentu akan berhasil bila ada sinergitas dari instansi-instansi terkait seperti pemda, TNI,Polri, BPBD dan unsur-unsur lainnya,”tegasnya mengakhiri sambutannya. (andy)