Nasihat Sang Guru: “Kuasa dan Harta Hanya Amanat”

INDONESIASATU.CO.ID:

PENDIDIKAN - Guru itu adalah panggilan jiwa, tak bisa direka-reka. Menjadi guru berarti menjadi murid seumur hidup, harus terus belajar dan upacara bendera. Menjadi guru berarti siap untuk hidup sederhana, karena tak ada bisnis atau untung yang bisa dihitung-hitung. Menjadi guru adalah panutan, tutur kata, tindak tanduk harus dijaga, tidak semua orang bisa.

Tapi guru adalah suatu kemuliaan. Presiden adalah muridnya guru. Menteri adalah muridnya guru. Insinyur adalah muridnya guru. Dokter adalah muridnya guru. Semua orang dan semua profesi adalah murid dan hasil didikan guru.

Tapi ternyata di kenyataan. Guru masih penuh penderitaan. Gaji kecil, tunjangan sedikit, sudah didapat masih disunat. Walaupun masih melarat tapi sang guru terus berhikmat, maka lahirlah pejabat dan konglomerat. Pejabat sehat karena tunjangan berlimpah, konglomerat sejahtera karena sukses usaha, namu sang guru tetap dalam derita.

Senang hatinya para sang guru, lihat muridnya menjadi ratu, jadi pejabat dan konglomerat. Guru tak minta guru tak harap pada pejabat dan konglomerat. Dari jauh guru berdoa semoga anakku selalu dilapangkan jalan dan rezekinya. Dari jauh diberi nasihat semoga anakku selalu ingat bahwa kuasa dan harta adalah amanat.

Pejabat dan konglomerat adalah sahabat. Saling bantu dan saling lihat. Bantu bisnis lihatkan peluang. Tapi sayangnya mereka terlalu dekat hingga lupa pada amanat, “kuasa dan harta adalah amanat”. Saling bantu dan saling lihat, sudah berubah jadi muslihat. Sana disikat, sini disunat, “ha ha ha ha…aku orang hebat.”

Kolusi, korupsi dan nepotisme sudah menjadi hobi. Nasihat guru tak terdengar lagi, kalah saing dengan hingar-bingarnya kemewahan duniawi sehingga aksinya menjadi-jadi. Hidup di dunia tidak sendiri, masih ada yang lain yang juga punya hati. Mereka tak suka kolusi, korupsi, dan nepotisme terus ada di bumi pertiwi.

Data digali, informasi dicari,  tentang pejabat dan konglomerat yang sudah lupa diri. Semua siap untuk beraksi, laporan masuk “sang murid”  pun siap diadili. Saksi hadir, bukti cukup, hukuman pun jatuh. Sang murid langsung ingat sang guru, ingat nasehat ingat amanat, “Kuasa dan Harta Hanya Amanat.”

“Sabar Anakku, pintu taubat selalu terbuka untukmu,” hanya itu kata terakhir dari sang guru.(HENDRI)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita