Menggali Membangun Rumah Impian Bawah Tanah, Pria ini Hanya Menggunakan Palu dan Pahat

INDONESIASATU.CO.ID:

JAKARTA - Memiliki sebuah rumah adalah sebuah impian setiap manusia. Rumah megah dengan beragam arsitektur yang ada di dalamnya akan membuat orang yang menghuninya menjadi betah untuk tinggal. Namun, berbeda dengan pria yang satu ini, ia memilih untuk membangun sebuah rumah dengan gaya yang aneh.

Adalah Builder Levon Arakelyan, seorang pria yang dengan susah payah menciptakan ruang bawah tanah yang berada di bawah rumahnya. Ia menggali tempat tersebut hanya dengan menggunakan palu dan pahat. Pengerjaan rumah tersebut tidaklah mudah dan singkat.

Ia menghabiskan waktunya selama 23 tahun untuk membuat ruang bawah tanah seluas 3.000 kaki. Ia bahkan mengerjakan sendiri proyek tersebut di hari ia meninggal pada 2008, dengan usia 67 tahun.

Awalnya, Levon tertarik untuk mengerjakan proyek tersebut setelah mendapatkan inspirasi dari istrinya yang bernama Tosya. Ia akhirnya berinisiatif untuk ikut membuat sebuah ruangan yang dingin untuk menyimpan kentang Sejak saat itu Levon mulai menggali dan membentuk berbagai ruangan dengan tangannya sendiri.

Kini gudang buatan yang terletak di desa Arinj di Armenia dibuka sebagai museum. Salah seorang fotografe Radio Free Eropa, Amos Chapple, tertarik untuk melakukan perjalanan dan memberikan penjelasan yang menarik terhadap tempat tersebut.

Chapple sendiri mengaku tertarik untuk mengunjungi ruang bawah tanah tersebut setelah mendapatkan informasi dari sebuah artikel. Kabarnya istri Levon, Tosya tidak lagi pergi menjelajahi gua yang dibuat suaminya karena takut terjatuh.

Alhasil Chapple memutuskan untuk turun ke bawah seorang diri. “Saya pergi ke dalam gua dan mencari tempat dimana ada lampu yang menyala. Saya kemudian meminta Tosya untuk mematikan semua lampu dan akan melanjutkan mengambil foto seorang diri. Saya berada di sana dalam kegelapan yang luar biasa dan hening yang membuat saya mudah tersesat,” tegas Chapple, sebagaimana dilansir Daily Mail, Sabtu (23/6/2018).

Chapple pun mengaku sempat ketakutan saat hendak memasuki gua tersebut. Ia mengaku khawatir sesuatu yang buruk bisa saja menimpanya di dalam. “Awalnya saya sedikit gugup karena Armenia adalah wilayah rawan gempa. Gua di dalam membentuk karang dan bisa saja runtuh menimpa saya.

Saya mencoba membuang pikiran itu dan hanya berkonsenterasi untuk memotret,” tambahnya. Dinding gua yang digali Levon menampilkan campuran batuan vulkanik keras dan lunak dengan suhu konsisten sekira 10 derajat celcius sepanjang tahun. Levon telah memalu ruang bawah tanah ini sejak 1985 dan selama bertahun-tahun, ia terus menggali dan menambahkan berbagai detail yang rumit ke dalamnya. Beberapa terowongan memiliki pintu-pintu yang besar dengan ukiran romawi pada batu.

Ada juga tangga miring dengan sempurna yang menempel ke dalam batu. Levon sering menghabiskan 18 jam per harinya di bawah tanah dan hanya muncul beberapa jam untuk tidur dan memulai pekerjaan itu lagi. Selain ruangan hasil karya Levon, museum ini juga menampilkan alat-alat yang dipergunakannya.

Salah satu benda itu adalah sepatu bot yang kerap dipakainya. Seluruh hasil bumi yang dibuang selama proyek penggalian, telah disumbangkan ke pembangun lokal untuk digunakan sebagai proyek konstruksi.

Chapple mengaku hanya melihat dua pengunjung lain di dalam gua tersebut. Tidak ada biaya masuk jika Anda penasaran untuk melihatnya, hanya ada sumbangan yang bisa Anda berikan seiklasnya.(hy/lsk)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita