Mengenal Masjid Jogokariyan (5/Habis) Tiap Pekan Saldo Infak Harus Nol Rupiah

maghfur, 24 Jun 2019,
Share w.App T.Me

BUKAN itu saja yang unik yang dilakukan para pengurus Masjid Jogokariyan. Berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Jogokariyan sangat berupaya agar saldo infak yang diberikan jamaah habis setiap pekan alias nol rupiah, kecuali apabila ada perencanaan pembangunan atau renovasi tertentu. 

Para pengurus (DKM) Jogokariyan berpendapat bahwa infak jamaah bukan seharusnya disimpan di dalam rekening, melainkan harus dipergunakan untuk kemaslahatan umat agar dapat memiliki nilai guna. Pemanfaatan uang infak pun bermacam-macam, selain untuk operasional masjid, juga digunakan untuk kebutuhan mendesak jamaah atau warga yang tinggal di sekitar masjid. 

Sebagai contoh, apabila ada jamaah yang anaknya perlu membayar uang sekolah, berobat ke rumah sakit, dan lain-lain dana infak masjid bisa dikeluarkan. Menurut mereka, sangat tidak etis ketika saldo rekening bank masjid menumpuk tetapi disekeliling mereka masih banyak warga yang mersakan kesulitan hidup.

Selain inovasi-inovasi (terobosan) yang telah dilakukan para pengurus Masjid Jogokariyan di atas, ada lagi terobosan yang disebut dengan Gerakan Jamaah Mandiri (GJM) yang bertujuan untuk menghitung jumlah infak ideal yang perlu dibayarkan oleh jamaah. 

Setiap jamaah akan diberi tahu jumlah uang infaknya tiap pekan, apabila jumlah yang ditentukan sesuai dengan jumlah yang diinfakan, maka jamaah tersebut disebut sebagai jamaah mandiri. Apabila uang infaknya lebih, mereka disebut sebagai jamaah pensubsidi, sedangkan apabila uang infaknya kurang, mereka akan disebut sebagai jamaah disubsidi. 

Metode semacam itu mampu membuat nominal infak yang diterima oleh Masjid Jogokariyan meningkat sebesar 400% setiap minggu. Ta’mir masjid pun akan memberikan laporan transparan terkait alur pemasukan dan pengeluaran dana, sehingga jamaah akan merasa senang berinfak sekali pun tidak diminta. Hal itu diharapkan oleh ta’mir sebagai upaya agar ketika akan melakukan renovasi masjid, mereka tidak perlu membebani jamaah dengan proposal.

Selain program Gerakan Jamaan Mandiri (GJM), Masjid Jogkariyan juga memiliki strategi dakwah jangka panjang yang terencana dengan tema-tema tertentu setiap periodenya. Sebagai misal, pada periode 2000-2005, strategi dakwah Masjid Jogokariyan bertekad untuk mengubah tradisi kaum abangan di Kampung Jogokariyan menjadi islami murni. 

Hal itu dimaksudkan karena sebagian besar penduduk Kampung Jogokariyan adalah bekas abdi dalem keraton yang mempraktikan ajaran Islam dengan kultur Jawa. Masjid Jogokariyan juga mengajak anak-anak muda yang gemar bermabuk-mabukan di jalan untuk diarahkan ke masjid. 

Ta’mir terutama, menjadikan mereka sebagai petugas keamanan masjid. Selain itu, Masjid Jogokariyan juga mengajak anak-anak kecil untuk beraktivitas di lingkungan masjid. Hal itu dimaksudkan agar anak-anak memiliki kecintaan kepada masjid dan hati mereka selalu terpaut kepada masjid. Lebih jauh lagi, di periode tersebut, Masjid Jogokariyan mulai gencar untuk mengajak warga yang tinggal di sekitar masjid untuk shalat berjamaah di masjid.

Pada period tahun 2005-2010, misalnya Masjid Jogokariyan merilis program bernama Jogokariyan Darusalam I yang bertujuan untuk membiasakan masyarakat berkomunitas di masjid. Berkat program tersebut, jama’ah shalat subuh meningkat sebanyak 50% atau sebanyak 10 shaff dari jama’ah shalat Jumat. 

Pada periode tersebut, Masjid Jogokariyan juga berkonsentrasi untuk menyejahterakan jama’ah melalui kegiatan-kegiatan tertentu, seperti lumbung masjid, memperbanyak pelayanan, membuka poliklinik, memberi bantuan beasiswa, memberikan layanan modal bantuan usaha, dan lain-lain.

Sementara itu, pada periode 2010-2015, Masjid Jogokariyan menggagas program Jogokariyan Darusalam II dengan tujuan untuk meningkatkan keagamaan masyarakat. Para pengurus dan ta’mir masjid bertekad untuk menuntaskan masyarakat yang belum menunaikan shalat berjamaah, meningkatkan jama’ah Salat Subuh menjadi 75% atau 14 shaf dari jama’ah Salat Jumat, menjadikan para mantan pemabuk sebagai bagian dari masjid, seperti menjadi relawan, petugas keamanan, dan lain-lain. (maghfur /dari berbagai sumber)

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu