Mengenal Masjid Jogokariyan (1) Dampak Sosial Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat 

maghfur, 20 Jun 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

MASJID Jogokariyan di Yogyajkarta selalu menarik minat orang untuk mengetahuinya. Bukan karena masjid tersebut sempat jadi aksi brutal pelemparan batu oleh sekelompok orang tak bertanggungjawab jelang pilpres 2019 kemarin, tetapi banyak hal unik yang juga perlu dipelajari. 

Setidaknya minat itu mulai dari sejarah pembangunannya, pengelolaan masjidnya, jamaahnya, juga pandangan orang terhadap masjid yang didirikan awal tahun 1966 itu.

Jogokariyan sendiri dalam bahasa Jawa diterjemahkan bebas sebagai tempat translit/masjid tempat persinggahan/tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Masjid Jagakariyan termasuk salah satu masjid bersejarah yang berada di Kampung Jogokariyan atau tepatnya berada di Jalan Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta. 

Lokasi masjid ini juga berdekatan dengan Pondok Pesantren Krapyak yang didirikan oleh KH Muhammad Munawwir yang sama-sama memiliki nilai sejarah panjang, terutama jika dikaitkan dengan keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Masjid Jogokariyan didirikan oleh Pengurus Muhammadiyah Ranting Karangkajen sebagai media dakwah untuk memperkuat dan menginternalisasi nilai-nilai keislaman ke dalam diri penduduk di sekitar masjid yang pada saat itu hampir seluruh penduduk Kampung Jogokaryan adalah kalangan “abangan” yang lebih mengutamakan kultur kejawen ketimbang kultur keislaman.

Pembangunan Masjid Jogokariyan sendiri memang  tidak terlepas dari dinamika sosial yang terjadi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada waktu itu, Sultan Hamengkubuwono membuka Kampung Jogokariyan karena sesaknya ndalem Beteng Baluwerti di Keraton. 

Pembukaan Kampung Jogokariyan ini dimaksudkan untuk menampung bergodo-bergodo Prajurit Kesatuan Keraton ke selatan benteng, tepatnya di utara Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan. Tempat itu kemudian dijadikan tempat tinggal para prajurit keraton yang kemudian sesuai dengan toponemnya dinamakan “Kampung Jogokariyan.” 

Namun dalam perkembangannya, Sultan Hamengkubuwono VII mengeluarkan kebijakan yang berhubungan dengan prajurit keraton. Sultan Hamengkubuwono VII melakukan reorganisasi tepatnya melakukan regalusasi terhadap para prajurit keraton yang semula 750 orang menjadi hanya 75 orang saja.

Prajurit-prajurit keraton yang terpilih dipindahkan ke Kampung Krapyak dengan jumlah sesuai kebutuhan. Mereka inilah  yang dipekerjakan keraton untuk kepentingan upacara saja, bukan lagi untuk perang. 

Konsekuensi kebijakan Sultan Hamengku Buwonokubuwono VII ini tentu saja membuat banyak prajurit kehilangan jabatan dan pekerjaan sebagai abdi dalem. Terutama terhadap para abdi dalem yang awalnya gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Mereka merasa kaget karena harus mengganti matapencahariannya sebagai petani.  Kendati demikian pihak keraton tidak lepas tangan begitu saja terhadap bekas para abdi dalem tersebut. Di Kampung Jogokariyan, mereka diberikan sepetak tanah dan santuan lain oleh keraton. 

Namun dalam perjalannyanya banyak di antara mereka (mantan prajurit keraton) itu tetap tidak dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya hingga kemudian memutuskan untuk menjual sawah mereka kepada pengusaha batik dan tenun. (maghfur/dari berbagai sumber)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu