Mengawali Tahun Ajaran Baru Bersama Kurikulum Baru

yahya, 16 Jul 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Tegal. Dinamika kegaduhan soal sistem zonasi telah lewat. Kini para siswa sekolah mulai memasuki tahun ajaran baru 2019/2020 dengan penerapan kurikulum 2013.

Sebelumnya terjadi keriuhan para orang tua murid berkaitan penerapan sistem zonasi dalam PPDB yang diatur dalam Permendikbud No 51/2018 dimana parameternya menggunakan pemeringkatan dengan jarak, nilai UN, usia siswa dan waktu mendaftar.

Tetapi hal tersebut pada dasarnya tidak begitu kental berpengaruh dalam eskalasi kegaduhan pada PPDB sekolah dasar.

" Sistem zonasi saya kira tidak begitu berpengaruh untuk sekolah dasar, " Ujar Esti Yuliati, SPd.SD Kepala Sekolah Dasar Negeri Panggung 6 kecamatan Tegal Timur, kota Tegal.

Hanya saja menurutnya, segala sesuatu pasti akan memunculkan dua sisi yang berbeda. Sisi positif dan negatif.

"Sehingga apapun harus selalu ada langkah langkah evaluasi yang harus dilakukan untuk mendekatkan pada kesempurnaan, " Lanjut Esti yang disampaikan pada Kantor Berita Portal Jurnalis Indonesia Satu (JIS) usai memberikan arahan hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7).

Tugas para pendidik sekarang menurutnya yang lebih utama tentunya berkonsentrasi merespond dan mentransformasikan sistem kurikulum 2013 terhadap anak didiknya.

Sehingga diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai harapan yang terkandung didalam tujuan kurikulum 2013.

" Dalam kurikulum 2013 ini siswa dituntut untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam setiap pemecahan masalah yang dihadapi di sekolah, " Kata Esti. Lebih lanjut

Esti juga menambahkan dengan sistem kurtilas selain memunculkan pendidikan karakter dan budi pekerti,

" Juga dapat membentuk mental kemandirian pada siswa, " Pungkasnya.

Selain sisi positif yang disampaikan Esti, dalam pengamatan Pengamat dan praktisi Pendidikan DR. Yusqon, MPd menyebutkan sistem pendidikan Kurtilas masih perlu diperhatikan sisi kelemahannya terutama pada para Pendidik.

" Terutama kemungkinan banyaknya guru menganggap tidak perlunya penjelasan materi pada siswa di kelas, Ujar Yusqon pada www.indonesiasatu.co.id melalui pesan singkat WhatsApp.

Dalam keterangannya Yusqon juga menggariskan pentingnya memperhatikan banyaknya guru yang belum siap mental dan kekurang pahaman guru terhadap konsep pendekatan scientific serta kekurang trampilan para guru merancang RPP.

" Sebetulnya masih banyak lagi yang perlu diperhatikan seperti para guru yang tidak menguasai penilaian autentik, " Pungkasnya. (Anis Yahya)

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu