Launching Kampung Literasi TBM Sakila Kerti Ditengah Tahun Politik

INDONESIASATU.CO.ID:

WARTAJATENG.CO.ID, TEGAL. Kata literasi dipadankan dengan kata keberaksaraan alias melek huruf yang secara konseptual memiliki beberapa tahap langkah. Pertama langkah pengenalan huruf, kata dan kalimat pada sisi teknis.

Kalau tahap itu sudah dapat terlampaui, bisa dikatakan sudah melek huruf. Selanjutnya mempraktekan sesuai fungsi berdasarkan segmentasinya hingga pada level dimana melek huruf sudah tidak pada tataran segmentatif lagi tapi diperluas pada tingkat dimana buku sudah bukan menjadi satu-satunya sumber bacaan. Sudah menjadi masyarakat cerdas.

Launching Kampung Literasi yang diselenggarakan TBM Sakila Kerti bukan sebuah program yang muncul tiba-tiba. Namun DR. Yusqon, MPd, telah melewati proses panjang untuk merealisasikan harapan idealnya mencerdaskan kehidupan masyarakat kota Tegal.

" Kita sangat mengapresiasi terhadap bapak Yusqon yang cukup intens dan telah lama menggeluti ini. Perjuangannya termasuk merealisasikan pendidikan kesetaraan dengan mendirikan taman bacaan di Terminal Kota Tegal," Ujar Kepala Kementerian dan Kebudayaan Kota Tegal DR. Johardi, MM yang mewakili Pjs. Walikota Tegal dalam sambutannya pada acara Launching Kampung Literasi TBM Sakila Kerti di jalan Kaligung, Gg 3 Rt 04/04, kelurahan Panggung, Tegal Timur, Kota Tegal, (Jumat, 11/5).

" Saya masih ingat ketika pak Yusqon mengajukan ijin lembaganya. Dua tahun setelah ijin dikeluarkan, grafik buta aksara menunjukan penurunan drastis. Ini menunjukan sebuah prestasi," Tambahnya.

Acara peluncuran itu sendiri selain dihadiri forkompinda, mengingat tahun ini adalah tahun pilitik, panitia mengundang juga 5 pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Tegal yang akan berkompetisi dalam pilwalkot Tegal 27 Juni mendatang.

Kehadiran para Cawalkot dan Cawawalkot Tegal setidaknya dapat menginspirasi mereka kelak ketika mereka dipercaya warga kota Tegal menjadi Walikotanya, program pencerdasan kehidupan masyarakat harus tetap dipertahankan bahkan dapat dikembangkan lebih maju.

Sebab ketika masyarakat telah cerdas, mereka akan mempunyai kesadaran dalam banyak disiplin termasuk kesadaran disiplin memaknai sejatinya pendidikan demokrasi untuk menghasillkan pemimpin qualified bukan pemimpim "Sinterklas" penebar lembar uang kertas. Apalagi membungkus birahi pencalonan dengan kemasan ibadah.

Dengan gerakan nasional Kampung Literasi yang dimunculkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sesuai amanat undang undang, maka diharapkan akan terus menurunkan tingkat buta aksara dan akan meningkatkan masyarakat yang cerdas.

Efek mencerdaskan kehidupan masyarakat setidaknya akan menghasilkan calon-calon pemilih cerdas kepala daerah. Sehingga tahun-tahun kedepan tidak ada lagi masyarakat dieksploitasi untuk pesta lima tahunan dengan kemasan uang dan ibadah. ( Anis Yahya )

Index Berita