Ini Penjelasan Alfian Anugrah Terkait Aksinya Kemarin di Kantor Kajati Sulsel

hermanmaros, 20 Jul 2019,
Share w.App T.Me

MAKASSAR-Aksi yang telah dilakukan DPP LKKN bersama Laskar Arung Palakka yang diterima langsung oleh Kepala Kajati Sulsel pada Jum’at kemarin.(19/07/2019).

Kajati Sulsel, Firdaus Dewilmar mengatakan saat menerima perwakilan dari rekan rekan aksi mengatakan,”kita akan jadikan teras Kajati Sulsel sebagai ruang dialog, demikian saya juga membuka ruang untuk dialog , saya sudah ketemu dengan pak gubernur , ketemu dengan pak kapolda, baik kapolda Sulbar maupun Sulsel, juga beberapa rekan-rekan bupati yang datang kesini pada hari ini , kami menerima rekan-rekan semua terkait dengan pelaksanaaan kegiatan status stadion barombong”,terangnya.

“Untuk stadion barombong ini saya ingin mendapatkan suatu kejelasan dulu kira-kira dari rekan-rekan LKKN dan Laskar Arung Pallakka, kira-kira apa informasi yang harus kita dialogkan , kemudian nanti kita cari solusinya apa dan mungkin ada juru bicara yang kami tunjuk”,ucap Firdaus.

Dikonfirmasi secara terpisah Kordinator Aksi, Alfian Anugrah menjelaskan,”Saya bersama teman-teman ini melihat ada kondisi yang miris karena kenapa..?. Kami ada perbandingan persoalan di papua, proyek yang sama di papua stadion juga di sana , itu dibangun sejak tahun 2017 selesai 2019. Stadion barombong ini pembebasan Lahan yang terjadi tahun 2011 permulaan pembangunan di 2012 sampai sekarang tidak selesai. Ada jawaban yang tidak elok yaitu persoalan tanah, artinya wilayah pembebasan Lahan dan pembangunan konstruksi stadion barombong itu dua hal yang berbeda, kemudian pembebasan Lahan ini saya anggap sudah selesai saat diawal pembangunan konstruksi stadion barombong dengan anggaran 2,1 milyar, ketika kemudian ada persoalan setelah pembangunan itu saya anggap itu bukan masalah karena penyelesaiannya itu , tidak sebanding lurus dengan anggaran yang akan kita keluarkan”,terang Alfian.

Ia juga menambahkan,”contoh ketika persoalan pembebasan lahan ini menggunakan dana sampai 10 miliar tidak mungkin ini menjadi alasan untuk diberhentikan pembangunan konstruksi yang nilainya 200 miliar lebih. Saya heran dengan pemerintah saat ini yang memberikan alasan seperti anak kecil saja , mana mungkin kita korbankan 200 miliar lebih dibanding uang 10 miliar. Saya juga berterimakasih dengan angin , karena seandainya bukan karena angin, kalau saya hanya mengandalkan pengawasan yang digaji oleh negara dan rekanan yang dipilih oleh pemerintah Sulsel dengan kota makassar, rekanan ini saya tidak akan mendapatkan informasi sesuatu yang roboh disana. Inilah yang membuat kami bertanya ada apa ini roboh , dan kami berterimakasih pada angin , bahwa angin ini menginformasikan pada kami sesuatu hal yang tidak bagus disana”,ujarnya.

“Yang saya herankan keberadaan tim pengawasan yang dilakukan mereka adalah kegiatan yang passif , pekerjaan pengawasan yang melekat pada dirinya adalah kegiatan passif . Tetapi kami lagi sebagai masyarakat tentu sudah jelas ada kekurangan disini , ada apa ini tidak selesai, dan kemudian tahun ini ada anggaran yang dipres sebanyak 5 miliar untuk pengadaan rumput di barombong itu tidak diterima, karena kenapa…?, artinya ada sesuatu yang tidak bisa menerima uang itu sehingga dialihkan ke kegiatan lain ada apa itu , dan orang-orang yang ada didalam ini adalah penguasa proyek nakal di susel saya paham itu”,tutup alfian Anugrah kepada media, saat ditemui hari ini sabtu,(20/07/2019).

Laporan Herman

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu