Ditunggu Kehadiran Pemerintah dalam Perbaikan Performa Logistik

INDONESIASATU.CO.ID:

JAKARTA - Sudah sekian lama performa logistik kita tidak menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan walaupun sudah berbagai macam cara dilakukan oleh Pemerintah. Masalahnya ada beberapa hal yang mendasari ini. Logistik kita tidak bisa dibandingkan dengan Singapura karena Singapura adalah Transhipment HUB itu artinya segala aktifitas banyak dilakukan di dalam pelabuhan. Sedikit sekali yang dilanjutkan ke daratan.

Logistik kita mungkin bisa dibandingkan dengan Belanda. Walaupun Belanda adalah transhipment hub untuk Eropa, tetapi Belanda harus menyalurkan 12 juta teus dari pelabuhan ini ke daratan EROPA, jika kita bandingkan dengan Indonesia yang hanya 6juta teus dan 70% nya di Jabodetabek volume di sana 3x lipatnya, tapi tampaknya tidak pernah ada kemacetan yang berarti disana. Yang membedakan sangat mencolok dengan kita adalah perkembangan sistim di HINTERLAND. Itu artinya setiap ada penambahan kapasitas di pelabuhan harus kita bangun secara terintegrasi serapannya ke daratan tidak hanya bangun pelabuhan saja! Bayangkan dengan segala kompleksitasnya Logistik Performance Index Belanda (4) masih diatas Singapura (5) yang notabene aktifitas hanya banyak di pelabuhan saja.

Sistim Hinterland yang baik akan dapat menurunkan logistik cost. Ada 4 moda di Belanda liquid dan gas melalui pipeline jaringan pipa nya sangat bagus dari Belanda hingga Eropa, Jaringan Inland waterways transportasi sungai hingga Eropa, Jaringan kereta dari Belanda - Eropa hingga Asia, dan Truk lebih difokuskan ke pengiriman jarak dekat. Jumlah Truk di Indonesia yang mencapai hingga 90 persen itu menandakan tidak adanya Simpul2 Logistik di daerah yang berarti.

Jika Pemerintah ingin serius memperbaiki sistim logistik kita mulailah dengan simpul logistiknya kemudian jaringan transportasi yang menghubungkan simpul2 tersebut dengan metode yang paling efektif dan efisien entah itu dengan kapal, kereta api ataupun pipa. Kita memiliki 34 propinsi hingga saat ini belum ada area yang ditentukan sebagai simpul logistik. Pelabuhan2 pun terus dibuat tanpa dipikirkan serapannya ke area hinterland juga poin supply atau poin konsumsinya. Jika kita menggunakan supply chain approach harus dipikirkan juga bagaimana menghubungkan sentra konsumsi dan sentra produksi tadi.

Tingginya biaya logistik itu karena Pemerintah tidak pernah hadir sehingga cara paling gampang adalah beli mobil niaga masing-masing untuk mengirimkan barang karena show must go on. Akhirnya yang timbul adalah kemacetan, inefektivitas dan pemborosan. Bayangkan logistik kita ini banyak diwarnai dengan pemborosan, contoh untuk pertanian saja hingga 70% itu dibuang karena rusak. barang ditumpuk diatas mobil tidak di kemas dengan baik sehingga bagian yang paling bawah rusak karena tertindih. 70% barang rusak ini jika kita perbaiki di hulu tentunya bisa ditekan. tidak hanya barang rusak, pemborosan bbm juga terjadi, belum kemacetan yang ditimbulkan hanya untuk mengirim barang rusak.

Jika jeruk mandarin dikirim dari China rusak 70% barang itu akan sangat mahal dan tidak kompetitif. Buah2an Impor kerusakannya sangat minimal bahkan dikirim menggunakan container berpendingin, kenapa kita tidak bisa ya? Jika simpul logistiknya ada, barang2 bisa dikonsolidasikan sehingga ongkos transportasi bisa ditekan dengan menggunakan truk2 yang lebih besar bukan kendaraan kecil2! Point to point delivery dengan kendaraan kecil bisa dikurangi dan model hub and spoke dengan menggunakan kendaraan besar bahkan transportasi masal bisa jalan dengan efektif. di Belanda untuk pengiriman jarak 60km itu harganya 270 Euro atau setara Rp. 4.32 juta. Jika kita bandingkan dengan harga pengiriman truk di Indonesia jarak 60km yang hanya Rp. 1.75jt biaya pengiriman di Belanda lebih mahal 2.5x biaya di Indonesia, tetapi kenapa logistik performance index nya lebih bagus dan logistik costnya lebih murah. Semoga ada yang bisa memulai langkah2x perbaikan di Indonesia karena tiap departemen merasa ini bukan tupoksi mereka. (dimas)

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

Index Berita