Di Atas Lawan, Di Bawah Kawan, Pencak Dor di Nganjuk Damai

nganjuksatu, 21 Jul 2019,
Share w.App T.Me

NGANJUK - Ribuan Pendekar dan masyarakat umum dari seluruh wilayah Nganjuk berkumpul menyaksikan pertarungan bebas Pencak Dor di Desa Bulutawing Kecamatan Brebek Kabupaten Nganjuk Jawa Timur, Minggu (21/7/2019) pagi pukul 09.00 WIB

Acara yang bertajuk mempererat tali silaturahim sesama kaum santri dan para pendekar dihadiri MWC NU Brebek yang diwakilkan M.Rohani, Kades Bulutawing Agus, Ketua Ranting PSHT dari Bulutawing dan Sumberurip, Ketua Padepokan GPN Gus Yayak dan para dewan pendekar se-Kabupaten Nganjuk dan jajaran ranting Brebek menggelar acara Pencak Dor di Desa Bulutawing Brebek Nganjuk.

Para pendekar dari sejumlah pondok pesantren dari dalam dan luar kota Nganjuk juga beberapa pendekar dari daerah Kediri turut naik panggung, memeriahkan tradisi pondok pesantren Nahdlatul Ulama.

Salah satu penyelenggra acara Pencak Dor dari ranting Brebek Gus Munajat, menjelaskan, Pencak Dor merupakan upaya mempertahankan tradisi Pondok Lirboyo yang selain melahirkan santri yang berakhlaqul baik juga nanti melahirkan santri-santri yang menguasai ilmu kanuragan dan seni bela diri yang digelar pihaknya.

"Saya juga bertrimakasih kepada saudara saya dari PSHT ranting Bulutawing dan Sumber Urip yang membantu terlaksana acara. Kami sangat antusias, kemungkinan tahun depan akan kita gelar lagi," kata pria yang akrab di sapa kang Munajat.

Ia menambahkan, dengan adanya panggung tarung bebas, tapi tetap menjunjung sportivitas dengan semboyan "di atas lawan di bawah kawan."jawabnya

Pertandingan seni beladiri Pencak Dor yang identik dengan nama besar Almarhum KH Maksum Djauhari, dilatarbelakangi oleh kegelisahannya makin maraknya aksi perkelahian antara remaja di Kediri kala itu, Tak jarang dari perkelahian tersebut menimbulkan korban, sejalan dengan aksi tersebut Almarhum Gus Maksum punya ide adanya suatu arena untuk bertarung satu lawan satu dengan fair.

lanjutnya, dengan adanya Pencak Dor ini bisa menyelesaikan perselisihan dengan adil tanpa mengurangi rasa persaudaraan, karena dalam Pencak Dor ini peserta yang bertarung dapat kembali menjalin persaudaraan lagi setelah selesai, bahkan ketika usai bertanding mereka bisa saling mengenal lebih dekat dengan lawanya yang diajak baku hantam. Tak jarang mereka bertukar pengalaman seputar dunia persilatan dengan canda tawa tanpa dilandasi dendam, Bukan itu saja di Pencak Dor juga mempertemukan antara sahabat satu daerah dengan daerah lain. 

Basri, santri asal Nganjuk bercerita, pencak dor bagian dari hobinya sejak masih nyantri di pondok pesantren Lirboyo. Saat mendapatkan kabar ada panggung yang menjadi kesukaannya, ia bersemangat untuk datang.   

"Saya asli santri Nganjuk. Dulu pernah mondok di Lirboyo. Setelah itu, mondok di Gontor sekarang. Tadi pagi dikabari temen Lirboyo ada acara yang sangat mengejutkan.Kumpul teman Lirboyo lagi. Dari kecil sangat suka menggeluti dunia persilatan utamanya Pagar Nusa," jelasnya. 

Pria yang biasa dipanggil Kang Basri itu, terakhir kali naik panggung pencak dor pada 2018 di Lirboyo. Semenjak pindah, dia sempat empat tahun tidak mendapatkan teman untuk berlatih silat. Dan baru di Nganjuk tepatnya di Desa Bulutawing ia kembali mendapatkannya.

Selain para pendekar Pagar Nusa, yang beradu tanding di atas pentas, nampak juga para pendekar dari Kalimantan yang tertarik untuk mencoba empuknya panggung kebanggan para pendekar dari kaum santri NU itu

Sementara itu, Kades Bulutawing, Agus, menjelaskan kegiatan tersebut nanti kedepan bisa menjadi kegiatan rutinan  Pencak Silat Pagarnusa Nusa se-Kabupaten Nganjuk. 

“Pendekar pencak silat Pagar Nusa itu tidak boleh memutuskan silaturahmi. Selain itu harus tawaduk, tidak memamerkan kekuatan yang dimilikinya. Hal inilah yang dicontohkan oleh guru besar,” katanya.

Selanjutnya dia mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh para pendekar yang tergabung dalam Pencak Silat Kabupaten Nganjuk 

“Seluruh pendekar harus mempertahankan komitmen serta tujuan selama ini. Terutama dalam membela agama serta menjaga keutuhan NKRI,” terangnya.

Kades Bulutawing yang baru dilantik juga megucapkan terimakasih kepada pihak kepolisian yang telah memberikan pendampingan keamanan acara Halal bihalal Pagarnusa sekaligus diapresiasi Ketua Ranting PSHT Bulutawing dan Sumber Urip Nganjuk kepada Pagar Nusa,” pungkasnya. (kla)

bisa dilihat disini

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu